Selasa, 19 Maret 2013

Puisi???

Hujan telah berlalu
Namun gundah masih menyisa
Akankah hati terus kelabu
Sementara awan telah terpeta
Dan pelangi akan segera menyapa
Mungkin
Hanya hati yang kan terjaga
Demi sepotong asa
Dan kumpulan semangat yang terpencar

Aku memandang ke luar jendela
Cantik, teduh, namun menyedihkan
Betapa rasa rumit menafsirkan
Hingga asa pun tak menggantikan
Rindu tak bertepi
Ku masih menanti
Di sini sendiri
Hingga kau membuka hati
Untuk kembali tersenyum terurai
Bersua denganku
Menjalani hari kita abadi
Selamanya meniti sebentuk hati
Berjalan selalu bersama, tanpa
hirau akan batuan tajam, gelombang besar, angin ribut
Tetap satu kita, kamu dan aku
Selamanya...
Hanya ada kita...

Aku tak tahu...
Rasa ini ringan terbang tinggi
Melayang mengingkari akal dan sanubari
Tapi yang pasti hanya ada aku, kamu, dan kenangan kita
Bukan...
Bukan hanya kenangan, melainkan masa depan juga.



Puisi spontan
Karya: KaYoDevFer
^_^

Ika Novita Mulia,
Yolanda Maria Leonita Sirait,
Astria Devi Noormala Sari,
Fera Mulya Ferdistia...

Judul???

Sepertinya cemburu memiliki hubungan baik dengan persaudaraan dan percintaan. Sudah terlanjur masuk ke dalam lingkaran kita, namun perasaan pun terlalu ikut campur dan mempengaruhi hati yang buta tentang arti cinta yang sebenarnya tidak perlu bercampur dengan persaudaraan. Lantas haruskah perasaan dipersalahkan ketika asa menyeruak dan tak dapat ditahan? rasa suka melebihi persahabatan yang selama ini terbangun dengan tidak sadar sementara ego pun ingin ambil bagian merusak dinding pengokoh tanda persaudaraan.

       Mengerti akan situasi namun sengaja memunafikkan dan berdalih seolah keadaan lah penyebab hilangnya kenyamanan kita. Tolong hindarkan hati untuk terjebak menjadi cinta. Cukup biarkan cinta hilang namun jangan berhenti tapi tetaplah menahan  hingga selamanya mencinta.

       Coba dengarkan kawan, di sini adalah aku harusnya kita tidak berperang terhadap asa-asa hanya bergulat membantah mematahkan harapan kita.

       Pada awalnya hubungan memang sudah merajut ke arah hati, tidak lantas terlena kemudian hanyut tak terkejar oleh keadaan.

       Baiklah sekarang biarkan yang mencinta menghilangkan asa bukan rasa namun dijaga agar nantinya jika yang tidak diinginkan terjadi tak mengorbankan hati. Sadarlah bahwa keadaan dapat membentuk rasa.





Prosa spontan
Karya: KaYo


Ika Novita Mulia,
Yolanda Maria Leonita Sirait...^_^ ^_^

Minggu, 09 September 2012

Ketika tiada wadah untuk dapat dihuni oleh sang koma...
ketika titik harus segera ada...
ketika seru pun semakin merajai...
Namun ternyata tanya semakin gentar hadir dan menghantui...

Harus berakhir di titik... tanpa koma dan tanya lagi...


Lara, nada, dan tawa...
bercampur lebur... satu menyatu... menyatu satu... namun tak membatu...
 

Jumat, 03 Agustus 2012

Rembulan...
sinarx membias ke seantero negeri ini...
menyinari hati2 tiap makhluk Illahi...
Rembulan itu mempesona...
Yah, pesonax kian mampu menggetarkan hati...
Menggetarkan hati dan teringat akan kekuasaan Illahi...
SubhanAllah...
Sungguh indah ciptaanNya...
Tak ada yg sia2 di dunia ini...
Semua pasti ada rahasiax...
Tertulis rapi dalam skenario Tuhan di Lauhul MahfudzNya...
Begitu juga tentang Rembulan, Gemintang, serta Mentari...
Dan begitu pula tentang diri ini dan seseorang disana...
Tangan Tuhan yg telah mengatur semuax...

Selasa, 31 Juli 2012

Sendu dan termangu...
Tercebur dalam lintangan hati penuh rindu nan kelu...
Kidung senja bebas menghamparkan semburat cahyax...
Kidung cinta bebas menghamparkan kerinduanx...
Selasar kasih menyeluruh di tepian hati...
Menyeruak dalam ke pusat teluk sanubari...
Bisikkan kerinduan yang menggerogoti bilik hati...


Ika

Kamis, 26 Juli 2012

Itu benar dan itu salah...
Terkadang kita mengetahuix tapi enggan tuk melakukanx...
Itu benar dan itu salah...
Terkadang kita menyadarix tapi enggan tuk mengubahx...
Itu benar dan itu salah...
Terkadang ego diri masih menyelimuti sehingga tak mau dipersalahkan...
Itu benar dan itu salah...
Manusiawi memang...
Manusia banyak terkurung dalam penjara ego...

Minggu, 22 Juli 2012

Angin berhembus... masuk menyusup dalam relung Qalbu...
Lembut... sejuk... sungguh syahdu...
Perlahan namun pasti... sedikit namun berarti...
Tak terlihat namun dapat dirasa...
Tak nampak namun dapat menyapa...

Namun...
Terasa perbedaan yang sungguh sangat menyesakkan...
Ketika angin... berhembus... bukan berhembus... melainkan menyerbu...
Angin menyerbu secara bergerombolan...
Bergulung2 menyentak Qalbu secara bersamaan...
Terpaksa... Tersudut...
Melayang... Terbang...
Jatuh... dan Terhempas...
Dengan cepat... Dengan tak terka...
Terlihat... Berbentuk... Terasa... Bertahta...

Sungguh segala yg berlebihan itu tak baik adanya...
Sungguh segala yg terpaksa itu tak baik hasilnya...